Rabu, 24 Desember 2008

Cinta

Sendiri terdiam diruang gelap dan sunyi sambil berjalan dan meraba sekeliling ku. Sesekali antukan dinding kembali menghampiriku kepalaku. Sedih, sunyi, dan takut selalu menjadi teman setiaku, meskipun aku tak pernah ingin mengenalnya. Apakah air mata ini akan habis sia-sia ditempat yang hina ini? Saat seberkas harapan pun tak lagi kumiliki, engkau datang menerangiku, mendekat dan mengusap air mataku sambil memeluk tubuhku yang menggigil setengah membeku. Lalu kau tarik tanganku dan mengajakku pergi bersamamu serta menghidupkan lagi harapanku. Terima kasih cinta.